Islam

8 Orang yang Tidak Wajib Puasa Ramadhan

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sebagaimana yang telah kita pahami bahwasanya puasa bulan Ramadhan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan bagi setiap orang yang merasa beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi ada 8 Orang yang Tidak Wajib Puasa Ramadhan

Apakah semua orang Allah wajibkan Puasa?

Para ulama rahimahumullah telah menjelaskan orang-orang yang diwajibkan untuk melaksanakan puasa.

Mereka mengatakan orang yang wajib berpuasa ada 6 kriteria, yaitu:

  1. Orang yang beragama Islam
  2. Berakal
  3. Baligh
  4. Dia mampu berpuasa
  5. Muqim (tidak sedang safar)
  6. Tidak ada satu keadaan yang menghalanginya untuk melaksanakan puasa

Ketika terpenuhi syarat-syarat di atas, maka wajib bagi seseorang untuk melaksanakan puasa.

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ

“Maka barangsiapa di antara kalian ada di bulan itu, maka berpuasalah.” (QS Al Baqarah :185)

Orang yang tidak wajib Puasa

Maka orang-orang yang tidak memenuhi syarat ini, maka tidak wajib baginya untuk melaksanakan puasa.

Orang Kafir

Orang kafir tidak diwajibkan atasnya berpuasa. Apabila dia masuk Islam, maka dia tidak disyari’atkan untuk mengganti puasa-puasa yang tidak dia laksanakan ketika dia dalam keadaan kafir.

Anak yang Belum Baligh

Anak yang belum baligh (anak yang masih kecil) maka tidak diwajibkan untuknya berpuasa.

Namun sejatinya orang tua mengajarkan kepada mereka untuk melaksanakan ibadah puasa ketika mereka telah tamyiz (sudah bisa membedakan, sudah bisa berniat).

Hendaklah orang tua (walaupun mereka belum baligh) untuk memotivasi anak-anak mereka melaksanakan puasa, agar ketika mereka baligh (diwajibkan berpuasa) mereka mampu untuk melaksanakannya (mereka tidak kesulitan untuk melaksanakan). 

Orang Yang Kehilangan Akal

Begitu juga orang yang tidak diwajibkan berpuasa adalah orang yang kehilangan akal, karena akal merupakan syarat melaksanakan puasa.

Orang yang kehilangan akal (orang gila, misalnya) atau orang yang telah lanjut usia yang mengalami kepikunan, dia tidak bisa membedakan, tidak bisa berniat dan tidak tahu puasa itu apa dan sebagainya. Maka orang seperti ini tidak diwajibkan berpuasa bahkan tidak disyari’atkan mereka untuk berpuasa.

Karena al aqlu (akal) merupakan syarat seorang diwajibkan berpuasa dan syarat sahnya orang berpuasa adalah ketika dia berakal. 

Karena puasa tidaklah sah kecuali dengan niat dan niat tidak akan muncul dari orang yang tidak memiliki akal.

Orang Lanjut Usia Yang Tidak Mampu untuk Berpuasa

Begitu juga dengan orang tua tetapi dia masih berakal, namun berat baginya untuk melaksanakan puasa karena usianya, sehingga dia tidak mampu untuk melaksanakan puasa.

Maka orang yang seperti ini ketika dia tidak sanggup lagi melaksanakan puasa, maka dia tidak wajib untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Akan tetapi kewajibannya adalah di ganti dengan membayarkan fidyah.

Sebagaimana dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika beliau berusia lanjut, beliau tidak melaksanakan puasa tetapi beliau mengganti puasa dengan membayarkan fidyah yaitu dengan 1 mud atau sekitar 0.75 Kg beras.

Fidyah ini dikeluarkan setiap hari selama dia tidak berpuasa (misalnya) dia tidak berpuasa selama 30 hari maka dia harus mengeluarkan 30 mud untuk dia serahkan kepada faqir miskin atau dia bisa memberikan makanan yang telah matang pada satu orang miskin perhari, sebanyak hari yang dia tidak berpuasa.

Orang-orang yang tidak diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan adalah…

Musafir

Musafir (orang-orang yang sedang dalam perjalanan) atau orang yang sedang safar, baik dalam waktu lama maupun sebentar, baik safarnya sekali-kali maupun setiap harinya dia safar, misalkan seorang pilot yang harus terus bersafar atau seseorang yang bersafar sehari lalu besoknya dia sudah kembali, atau orang yang bersabar di pagi hari dan kembali di siang hari. maka orang seperti ini diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun dia harus menggantinya di hari yang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah:185)

Sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim, beliau berkata:

كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ، وَلاَ الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ.

“Dahulu kami bersafar bersama Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam (di antara kami ada yang berpuasa ada juga yang berbuka). Maka orang yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan orang yang tidak berbuka tidak mencela (merendahkan) orang-orang yang sedang berpuasa.” (Hadits shahih riwayat Al Bukhari nomor 1947)

Para ulama mengatakan ketika seorang safar maka dia lihat keadaan dirinya. Seandainya dia merasa maslahat untuk dirinya dengan berpuasa maka dia lakukan puasa. Ketika dia memandang berat baginya untuk berpuasa maka hendaklah dia berbuka.

Namun ketika keadaannya sama, puasa atau tidak (tidak ada perbandingan yang terlalu besar) yang membuat dia harus memilih untuk membatalkan atau tetap berpuasa, maka para ulama mengatakan bahwa yang afdhal untuk dirinya adalah tetap berpuasa, karena itu lebih ringan baginya dan lebih cepat gugur kewajiban dari dirinya.

Sakit Tidak Wajib Puasa Ramadhan

Adapun orang-orang yang safar, lalu safar itu membuat dirinya sakit (jika dia berpuasa), maka haram baginya untuk melaksanakan puasa. Tidak boleh dia berpuasa kalau seandainya dengan puasanya dia malah sakit (memudharatkan dirinya).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: 

لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

“Bukan merupakan kebaikan berpuasa ketika safar.” (Hadits shahih riwayat Al Bukhari nomor 1946)

Ini bagi orang yang safar lalu dia berpuasa (dia tahu dirinya tidak sanggup untuk berpuasa) kemudian dia sakit. Maka orang seperti ini tidak boleh berpuasa. 

Baca juga  Kewajiban Puasa dan Keistimewaan Shalat Tarawih Ramadhan

Orang Yang Sakit

Orang yang sakit seandainya dia berpuasa akan memperlama sembuhnya atau menambah sakitnya, maka orang seperti ini boleh untuk berbuka (tidak berpuasa).

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS Al Baqarah:185)

Maka orang-orang yang sakit, ketika sakit itu memudharati dirinya maka hendaklah dia membatalkan puasanya (tidak ikut berpuasa) dan dia harus menggantinya di hari yang lain.

Adapun orang yang di vonis oleh dokter bahwasanya penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan, maka orang seperti ini para ulama mengatakan hukumnya sama dengan orang yang telah lanjut usia yang tidak sanggup lagi untuk melaksanakan puasa.

Dia tidak berpuasa dan mengganti puasanya dengan cara membayar fidyah.

⇒ Ini bagi orang yang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya.

Namun bagi orang yang sakit dan dokter masih mengatakan bahwa dia bisa sembuh (tidak divonis sebagai penyakit yang lama atau tidak bisa disembuhkan), maka orang seperti ini dia membatalkan puasanya dan di hari lain (setelah Ramadhan) wajib baginya untuk mengganti puasa yang telah dia tinggalkan.

Wanita Haidh atau Nifas

Wanita yang sedang haidh atau nifas, seandainya dia berpuasa, maka tidak sah puasanya. Bahkan bisa menjadi dosa bagi dirinya ketika dia berpuasa dalam keadaan haidh, karena seolah-olah dia bermain dalam agama.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ما رأيت من ناقصات عقل ودين أذهب للب الرجل الحازم من إحداكن

“Tidaklah aku melihat makhluk yang akal dan agamanya kurang tetapi bisa menghilangkan logikanya seorang laki-laki yang memiliki pendirian kuat dibandingkan kalian para wanita.”

Kemudian para sahabat wanita bertanya:

“Wahai Rasulullah, bagaimana bentuk kekurangan akal dan agama kami?”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Bukankah persaksian wanita tidak diterima bila satu orang?”

Kemudian para sahabat wanita menjawab, “Iya”, 

Dan bukankah kalian ketika sedang haidh atau nifas, tidak shalat dan tidak puasa?

Para sahabat wanita pun menjawab, “Iya”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Itulah bentuk kurang akal dan agama seorang wanita”.

Dari hadits ini kita lihat bahwasanya seorang yang haidh dan nifas, maka dia tidak wajib untuk berpuasa dan tidak sah puasanya.

Akan tetapi ketika dia suci wajib baginya mengganti puasa Ramadhan yang dia tinggalkan, di luar bulan Ramadhan.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya, “Mengapa wanita yang haidh atau nifas harus mengganti puasa namun tidak mengganti shalat?”

Kemudian Aisyah berkata, “Karena dahulu kita diperintahkan untuk mengganti puasa dan kita tidak diperintahkan untuk mengganti shalat”.

Maka wanita haidh dan nifas wajib bagi mereka mengganti puasa di luar bulan Ramadhan sejumlah hari yang mereka tinggalkan.

Wanita Hamil Dan Menyusui

Wanita hamil dan menyusui apabila dia merasa tidak sanggup untuk melaksanakan puasa, jika dia puasa dia takut bahaya akan menimpa dirinya atau janin yang dia kandung atau bayi yang dia susui, maka wanita tersebut boleh untuk tidak berpuasa.

8 Orang yang Tidak Wajib Puasa Ramadhan

Namun seandainya ketika dia berpuasa, dokter mengatakan tidak masalah baginya untuk berpuasa (tidak mengganggu kesehatannya, janin atau bayinya) maka wanita dengan kondisi seperti ini wajib baginya untuk berpuasa.

Namun apabila membahayakan, maka disyari’atkan baginya untuk membatalkan puasa dan menggantinya di hari yang lain.

Karena wanita hamil dan menyusui hukumnya seperti orang yang sakit, ketika orang yang sakit sembuh, maka dia wajib mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan. Begitu pun dengan wanita hamil dan menyusui, dia wajib untuk mengganti puasa yang dia tinggalkan, di luar bulan Ramadhan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إن الله و ضع عن المسافر شطر الصلاة وعن المسافر والحامل و المرضع الصوم

“Allah Subhanahu wa Ta’ala menggugurkan setengah shalat bagi musafir, dan Allah gugurkan bagi orang hamil dan orang yang sakit puasa.”

⇒ Shalat musafir empat raka’at menjadi dua raka’at.

Sebagaimana musafir wajib baginya untuk mengganti puasa di luar bulan Ramadhan, begitu juga wanita hamil atau wanita yang menyusui wajib baginya untuk mengganti puasa tersebut di luar bulan Ramadhan apabila mereka telah melahirkan atau telah selesai menyusui.

Kondisi Orang Yang Dibolehkan Membatalkan Puasa

Kondisi orang yang dibolehkan membatalkan puasa atau tidak wajib baginya berpuasa adalah orang yang butuh tidak berpuasa untuk menyelamatkan orang lain. Maka orang yang seperti ini boleh baginya untuk tidak berpuasa.

Misalnya:

Orang yang ingin menyelamatkan orang yang tenggelam dan dia tidak sanggup menyelamatkannya kecuali dengan mengisi energi (makan) maka orang seperti ini wajib baginya untuk membatalkan puasanya dan menyelamatkan nyawa orang yang tenggelam tadi.

Karena kaidah mengatakan:

و ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“Segala sesuatu kewajiban tidak bisa terlaksana kecuali dengan mengerjakan sesuatu yang lain, maka yang lain tersebut hukumnya menjadi wajib.”

⇒ Wajib puasanya dia batalkan untuk menyelamatkan orang tersebut.

Begitu pula orang yang berjihad Fisabilillah (misalnya). Seandainya puasa melemahkan dirinya, tidak sanggup baginya untuk menyelamatkan agama ketika berjihad Fisabilillah kecuali dengan berbuka, maka disyari’atkan baginya untuk berbuka.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada para sahabat:

إنكم قد دنوتم من عدوكم و الفطر أقوى لكم

“Kalian telah berada dekat dengan musuh-musuh kalian dan berbukalah karena itu akan menjadikan kalian lebih kuat”

Para ulama mengatakan, seorang yang ingin menyelamatkan orang lain dan tidak bisa baginya untuk menyelamatkan orang lain kecuali dengan membatalkan puasanya, maka disyari’atkan baginya untuk membatalkan puasanya.

Itulah orang-orang yang telah kita jelaskan yang wajib berpuasa dan orang-orang yang diberikan udzur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk tidak berpuasa.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq kepada kita semua, memudahkan kita untuk menjalankan puasa di bulan Ramadhan ini dan mengangkat bencana (wabah) yang tengah menimpa kita.

Oleh Ustadz Muhammad Ihsan S.ud

Write A Comment