Islam

7 Hal yang Dapat Membatalkan Puasa

Pinterest LinkedIn Tumblr

Kita akan berbicara 7 hal yang dapat membatalkan puasa. Sebelum kita berbicara rincinya, ada tiga hal pembatal puasa yang paling inti.

Tiga hal ini disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَٱلۡـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبۡتَغُواْ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِۚ

“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.” (QS Al Baqarah :187)

3 Hal inti Pembatal Puasa

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tiga hal yang menjadi pembatal pokok ibadah puasa seseorang, yaitu:

  1. Al jima’ (berhubungan badan)
  2. Makan
  3. Minum

Ada 7 pembatal puasa, yang mana ketujuh pembatal puasa ini kembali kepada tiga pembatal inti.

7 Hal yang Dapat Membatalkan Puasa

  1. Jima’ (melakukan hubungan badan).
  2. Yang semakna dengan jima’ yaitu onani.
  3. Makan dan minum.
  4. Yang semakna dengan makan dan minum, seperti infus atau suntikan cairan yang memiliki fungsi yang sama dengan makanan dan minuman.
  5. Mengeluarkan darah karena tujuan berbekam, kalau tujuannya bukan berbekam maka tidak batal puasanya.
  6. Muntah dengan sengaja.
  7. Keluarnya darah haidh dan nifas.

Dari ketujuh pembatal ini, ada satu pembatal puasa yang paling parah yaitu jima’ di siang hari bulan Ramadhan.

Kita katakan paling parah karena hukumannya paling berat. Orang yang batal puasanya karena jima’ maka dia dia tidak hanya berkewajiban mengganti puasanya hari itu, tetapi ada konsekuensi hukuman lain yang harus dia pikul, yaitu:

  1. Dia harus bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena dia telah melakukan dosa besar.
  2. Dia mengganti puasa yang dia batalkan.
  3. Dia harus membayar kafarat (tebusan) dengan cara: Membebaskan budak (dan ini tidak mungkin dilakukan pada zaman sekarang) maka beralih kepada kafarat yang kedua, Puasa dua bulan berturut-turut (tidak boleh ada jeda). Jika tidak mampu maka beralih ke kafarat ketiga, Memberi makan 60 Orang miskin.

7 pembatal puasa tadi dapat berlaku apabila terpenuhi tiga hal, yaitu:

Dia mengilmui (mengetahui)

Jadi apabila seseorang tidak tahu kalau berhubungan badan di siang hari Bulan Ramadhan bisa membatalkan puasa, maka puasanya tidak batal karena dia belum tahu.

Ingat

Dia lakukan pembatal puasa itu dalam kondisi ingat, kalau dia melakukan dalam kondisi lupa maka tidak batal puasanya. Contohnya, makan dan minum karena dia lupa, maka dia bisa melanjutkan puasanya walaupun dia sudah kenyang.

Ikhtiar

Ikhtiar artinya tidak ada unsur paksaan. Kalau ada unsur dipaksa, seperti diancam nyawanya atau dilukai kalau dia tetap berpuasa, maka dia membatalkan puasanya akan tetapi puasa dia tidak batal.

Tiga hal ini apabila terpenuhi dalam diri seseorang maka berlakulah pembatal-pembatal puasa.

Kemudian, kita akan bahas 7 hal yang sering dianggap dapat membatalkan puasa, padahal tidak!

7 Hal yang dianggap Membatalkan puasa

7 Hal yang Dapat Membatalkan Puasa

Sekarang kita membahas beberapa hal yang dianggap sebagai pembatal puasa, padahal sebenarnya bukan pembatal puasa, (artinya) orang yang melakukan hal-hal ini tidak batal puasanya.

Mimpi basah di siang hari Ramadhan

Mimpi basah tidak membatalkan puasa, karena orang yang mimpi basah bukan di bawah kendalinya. Sehingga tidak adil jika hal seperti ini menjadi pembatal puasa.

Termasuk juga orang yang dalam kondisi junub ketika sahur (belum mandi wajib), dan mandi wajibnya ketika sudah tiba waktu subuh, maka hal seperti ini puasanya tetap sah.

Orang yang haidh atau nifas, darah haidh atau darah nifasnya berhenti di malam hari atau ketika sahur, sampai tiba waktu subuh dia belum mandi wajib, maka puasanya sah.

Menggunakan obat tetes mata

Menggunakan tetes mata tidak membatalkan puasa, walau seringkali tetesan itu terasa di tenggorokan kita. Namun tetes mata itu masuk ke dalam tenggorokan kita tidak melalui jalurnya (maksudnya jalur mulut). Sehingga berdasarkan pendapat yang tepat maka menggunakan obat tetes mata tidak membatalkan puasa.

Baca juga  8 Hikmah Puasa dalam Kehidupan Sehari-hari

Di samping itu fungsi obat tetes mata bukan seperti fungsi makan dan minum. Obat tetes mata tidak memiliki fungsi penambah gizi sebagaimana fungsi makan dan minum sehingga tidak membatalkan puasa.

Mabuk di perjalanan (muntah)

Orang yang muntah (mabuk dalam perjalanan) tidak membatalkan puasanya asalkan muntahnya itu tidak di sengaja.

Selama tidak di sengaja tidak membatalkan puasanya walaupun itu melalui tenggorokan, karena seperti ini di luar kendali kita. Sama seperti orang yang mimpi basah.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa kita yang dilakukan karena dasar tidak sengaja.

Marah, ghibah atau melakukan dosa besar lainnya

Marah, ghibah atau melakukan dosa besar lainnya ketika sedang puasa, maka puasanya tidak batal (puasanya sah) tidak harus mengganti di hari yang lain tetapi pahala puasanya hangus.

Pahala puasanya tidak dia dapatkan walaupun kewajiban puasanya tetap gugur, tapi bisa menyebabkan puasanya tidak bernilai.

Ini bahayanya melakukan dosa besar ketika sedang berpuasa.

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan maksiat dan kebodohan, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (Hadits riwayat Al Bukhari nomor 6057)

Jadi ini penting untuk kita ketahui, karena sebenarnya ruh puasa ada di sini.

Apa ruh puasa itu?

Ruh puasa adalah surat Al Baqarah 183:

لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Supaya kalian bertakwa.”

Jadi puasa kita harus bernilai takwa, jangan sampai kita hanya menahan lambung kita, mulut kita berhenti dari mengunyah tapi hawa nafsu kita tidak. Maka tahanlah nafsu kita agar tidak melakukan dosa-dosa.

Selajutnya beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait Pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan terkait Hukum Puasa Kontemporer.

Hukum Sikat Gigi Di Siang Hari Bulan Ramadhan.

Hukum sikat gigi di siang hari bulan Ramadhan adalah boleh, meskipun sikat gigi menggunakan pasta gigi (odol).

Kenapa diperbolehkan?

Karena bersiwak atau membersihkan gigi adalah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Bersiwak dilakukan di awal hari (pagi hari, sebelum shalat zhuhur tiba) berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb.” (Hadits shahih riwayat Ahmad, Irwaul Ghalil nomor  66)

Jadi anggapan yang mengatakan tidak boleh sikat gigi ketika puasa, karena bisa membatalkan puasa atau tidak mendapatkan keutamaan dalam hadits di bawah ini adalah salah.

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (Hadits shahih riwayat Muslim nomor 1151)

Jadi silahkan sikat gigi, boleh menggunakan pasta gigi dan tidak membatalkan puasa dan In sya Allah tetap mendapatkan keutamaan, “Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi daripada bau kasturi.”

Kenapa ?

Karena para ulama mengatakan bau mulut itu muncul dari bau lambung bukan dari bau gusi atau mulut atau gigi kita.

Hukum Berkumur Ketika Berpuasa

Berkumur-kumur ketika sedang berpuasa apakah membatalkan puasa?

Berkumur-kumur tidak membatalkan puasa, karena Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah mengatakan:

وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“Bersungguh-sungguhlah kalian dalam memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) kecuali dalam keadaan berpuasa.” (Hadits riwayat Abu  Dawud, nomor 142; Ibnu Majah nomor 448, An-Nissa ’i, nomor 114)

⇒ Masuk makna istinsyaq adalah berkumur-kumur.

Mencium istri di siang hari bulan Ramadhan

Sahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam tentang hukum mencium istri di siang hari bulan Ramadhan.

Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab:

أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ

“Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur-kumur ?”

Kemudian Umar menjawab:

قُلْتُ لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ

“Seperti itu tidak mengapa.”

 فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم فَفِيمَ

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Lalu apa masalahnya?“ (Hadits riwayat Ahmad 1/21)

Ini adalah dalil bahwasanya berkumur-kumur dan mencium istri di siang hari bulan Ramadhan dan menelan air ludah, tidak membatalkan puasa.

Oleh Ustadz Ahmad Anshori dan Ratno Abu Muhammad

Write A Comment