Islam

Kewajiban Puasa dan Keistimewaan Shalat Tarawih Ramadhan

Dilengkapi Dalil Qur'an dan Hadits
Pinterest LinkedIn Tumblr

Puasa di Bulan Ramadhan merupakan salah satu ibadah yang sangat agung dan dilengkapi dengan Keistimewaan Shalat Tarawih di sepanjang malamnya. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Hadits riwayat Al-Bukhari nomor 38 dan Muslim nomor 760)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan umat Islam, mewajibkan umat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Hukum wajib ini diambil dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka wajib ia berpuasa pada bulan itu.” (QS Al-Baqarah:185)

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan puasa Ramadhan menjadi salah satu pilar di antara rukun-rukun Islam. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima pilar,  Syahadat La ilaha illallah (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) Muhammad Rasulullah menegakkan Shalat , membayar Zakat, Hajji, dan Puasa Ramadhan.” (Hadits riwayat Al-Bukhari nomor 8)

Islam dibangun di atas lima pilar atau lima arkan, salah satunya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam katakan, “dan puasa di bulan Ramadhan“.

Ketika datang bulan Ramadhan wajib bagi orang-orang yang merasa dirinya beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, maka wajib baginya untuk melaksanakan puasa di bulan tersebut.

Cara menentukan bulan Ramadhan?

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan caranya. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah mengajarkan kita bagaimana cara kita menentukan datangnya bulan Ramadhan sehingga kita wajib melaksanakan puasa Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian ketika kalian melihatnya. Begitu pula ketika kalian telah melihat hilal bulan Syawwal maka hendaklah kalian berbuka.”

Yaitu ketika melihat hilal bulan Ramadhan, yaitu bulan sabit, bulan yang pertama kali muncul di setiap awal bulan.

Ketika kalian melihat hilal bulan Ramadhan maka berpuasalah!

وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ

“Begitu pula ketika kalian telah melihat hilal bulan Syawwal maka hendaklah kalian berbuka.”

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ

Bagaimana bila kita tidak bisa melihat hilal? Mungkin karena mendung atau hal lainnya sehingga kita tidak bisa melihat hilal bulan Ramadhan, Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjelaskan:

 فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

“Maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”

Dua cara inilah yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam jelaskan dan telah disepakati oleh para ulama dari dulu untuk menjadi patokan dalam menentukan bulan Ramadhan, dalam menentukan kapan wajibnya seseorang melaksanakan puasa Ramadhan.

Para ulama dari dulu menjelaskan, bulan Ramadhan tidaklah ditetapkan dengan cara hisab, karena Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjadikan sebab puasa tersebut yaitu dengan melihat hilal bulan Ramadhan.

Ketika kita melihat hilal bulan Ramadhan maka ketika itu juga wajib kita melaksanakan puasa.

Alhamdulillah, di negara kita sudah ada tim yang disiapkan untuk melihat hilal bulan Ramadhan, yang mana ketika ada yang melihat hilal bulan Ramadhan dilaporkan kepada pemimpin kita (ulil amri atau wakilnya) lalu diumumkan kepada masyarakat ketika tampak hilal bulan Ramadhan, maka besoknya kita sudah wajib berpuasa.

Namun apabila tidak terlihat, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.

Keistimewaan Shalat Tarawih

Shalat malam di bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan keistimewaan dibandingkan bulan-bulan yang lainnya. Dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Baca juga  6 Cara Membaca Al Qur'an untuk Meraih Keberkahan

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa shalat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau.” (Hadits riwayat Muslim (I/523 no. 759 (174)), Al Bukhari nomor IV/250 nomor 2009)

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan dengan dengan penuh iman…

Keistimewaan Shalat Tarawih

Yakni iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada pahala yang telah Allah siapkan bagi orang-orang yang melaksanakannya.

وَاحْتِسَابًا

Dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Bukan karena riya’, sum’ah atau menginginkan harta dan kedudukan.

غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Dan qiyam Ramadhan mencakup shalat di awal malam dan di akhir malam. Oleh karenanya shalat tarawih termasuk qiyam Ramadhan.

Kenapa dinamakan tarawih?

سمّيت تراويح لأن الناس كانوا يطيلونها جدّأ

Dinamakan tarawih karena dahulu orang-orang mengerjakannya dengan lama (panjang) Setiap kali mereka shalat empat raka’at mereka istirahat sejenak. Dari sini kita dapatkan faedah bahwasanya:

وكان السلف الصّالح يطيلونها جدا

Salafush Shalih, mereka mengerjakan shalat tarawih dengan sangat panjang.

Dari hadits As Said ibnu Yazid radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

كان القارئ يقرأ بالمئين – يعني: بمئات الآيات – حتى كنا نعتمد على العِصي من طول القيام

“Dahulu imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri.”

Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang di zaman ini, mereka melakukan shalat tarawih dengan sangat cepat dan mereka tidak melakukan kewajiban tenang dan tuma’ninah yang merupakan salah satu rukun di antara rukun-rukun shalat, dan shalat tidak sah tanpa tuma’ninah.

Shalat Tarawih Berjamaah

Sangat ditekankan untuk mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah. Orang pertama yang mensyari’atkan atau melakukan shalat tarawih secara berjama’ah adalah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Beliaulah orang pertama yang melakukan shalat tarawih secara berjama’ah. Dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

Suatu malam Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam shalat di masjid lalu orang-orang ikut shalat bersama beliau. Pada malam berikutnya orang-orang bertambah banyak, kemudian pada malam ketiga atau malam keempat orang-orang berkumpul namun Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak keluar menemui mereka.

Kemudian pagi harinya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata:

قد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أنني خشيت أن تفرض عليكم

“Sungguh aku telah melihat apa yang kalian lakukan, namun tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali aku khawatir shalat ini diwajibkan atas kalian.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

وذلك في رمضان

“Hal itu terjadi dibulan Ramadhan.”

Kemudian dalam riwayat lain, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Kami pernah puasa bersama Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, Beliau tidak shalat malam mengimami kami hingga tersisa tujuh malam dari bulan Ramadhan. Pada bulan tersebut Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam shalat mengimami kami, hingga berlalu sepertiga malam.

Kemudian pada malam keenam beliau tidak shalat bersama kami, pada malam kelima kembali Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam shalat bersama kami hingga berlalu separuh malam.

Lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, sekiranya anda bersedia untuk mengerjakan shalat sunnah ini bersama kami pada sisa-sisa malam ini?”

Kemudian Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata:

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam  satu malam penuh.”

Bulan Ramadhan adalah hari-hari yang berbilang (hari-hari yang sebentar) maka hendaknya kita manfaatkan bulan Ramadhan kita perbanyak shalat tarawih jangan sampai kita absen darinya.

Oleh Ustadz Amir As Soronji, M.Pd.I. dan Ustadz Muhammad Ihsan S.Ud

Write A Comment