Islam

9 Adab Wajib dan Sunnah Berpuasa

Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits
Pinterest LinkedIn Tumblr

Berbicara tentang puasa, maka pembahasan kita tidak hanya seputar hukum, hikmah, syarat dan juga pembatal-pembatal puasa. 9 Adab Wajib dan Sunnah Berpuasa

Puasa memiliki beberapa adab yang mana pahala puasa tidak akan sempurna kecuali dengan menyempurnakan adab-adabnya.

9 Adab Wajib dan Sunnah Berpuasa

Para ulama telah membagi adab-adab puasa menjadi dua, 4 adab wajib dan 5 adab sunnah

  1. Adab wajib artinya “harus” dan tidak bisa ditinggalkan, sifatnya beriringan dengan puasa itu sendiri. Sebagaimana puasa itu wajib, maka di sini adab yang menyertainya pun wajib.
  2. Adab yang sifatnya sunnah atau anjuran.

Kita akan membasah adab wajib dan adab sunnah berpuasa. Kita mulai dengan adab yang sifatnya wajib (ada dan harus dan tidak boleh ditinggalkan).

Adab Wajib Puasa

Poin pertama yang disampaikan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah adalah:

Segala Ibadah Wajib

Segala macam ibadah baik ucapan atau perbuatan yang dihukumi wajib (tetap) walaupun seseorang berpuasa, seperti shalat (misalnya).

Kita tahu bahwa shalat adalah sesuatu yang agung, sesuatu yang mulia, sesuatu yang menjadi prioritas ketika kelak di hari penghisaban Allah Azza wa Jalla.

Ia akan ditanya dan tidak mungkin ketika kita mengamalkan puasa kita justru mengabaikan sesuatu yang penting seperti shalat.

Shalat hukumnya wajib. Sebagaimana kita ketahui bersama di antara pendapat yang rajih (pendapat yang tepat) di kalangan para ulama bahwanya shalat ini adalah shalat jama’ah.

Maka shalat jama’ah tetap harus didirikan, shalat jama’ah harus ditunaikan. Sebagaimana kita tahu bersama dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika ada seorang sahabat yang buta yang meminta udzur kepada Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam agar tidak diwajibkan untuk mendatangi shalat jama’ah.

Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam memberikannya, namun tatkala ia berbalik dan terdengar adzan kemudian Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bertanya:

هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ )بِالصَّلَاةِ( ؟

“Apakah engkau mendengar panggilan atau seruan shalat?”

Kemudian dia menjawab, “Iya.”

Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

فأجب

“Maka penuhilah.”

Maka bagi seseorang yang menjalankan ibadah Ramadhan (puasa), hendaklah ia tetap menjalankan ibadah shalatnya yaitu shalat berjama’ah bagi laki-laki.

Lalu bagaimana ketika dalam kondisi sulit seperti wabah yang melanda dan lain sebagainya?

Dalam kondisi seperti ini bukan berarti shalatnya digugurkan, sebagaimana shalat di dalam perang tidak digugurkan tetap ditekankan.

Maka pendirian dan penegakan shalat tetap tidak berubah, hanya tata-caranya. Dalam kondisi-kondisi sulit maka diupayakan tetap berjama’ah walaupun tidak di masjid.

Inilah kemudian yang dijadikan dalil bagaimana ketika Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ على صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat jama’ah ketika dibandingkan dengan shalat sendirian maka berbanding 27 derajat.”

Satu catatan yang tidak boleh dilupakan bagi orang yang berpuasa dan tetap harus menegakkan shalat adalah jangan sampai shalat Shubuh dan shalat Isyanya dilupakan atau diremehkan.

Hal ini sebagaimana ancaman dan juga kabar yang tentu saja menjadi cambuk bagi kita semua. Ketika Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa shalat Shubuh dan shalat Isya merupakan shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik.

Maka  ketika puasa shubuh biasanya dikalahkan oleh rasa kantuk, isya biasanya dikalahkan oleh rasa kenyang, maka jangan sampai demikian. Kita sebagai seorang muslim hendaklah memperhatikan kedua shalat ini dan mendapatkan keduanya dalam prioritas-prioritas kita agar kita tidak tergolong dari orang-orang munafik.

Meninggalkan dusta

Ketika kita berpuasa, benar kita tidak menelan sesuatu, kita tidak melakukan hubungan badan, tetapi keluar dari lisan kita adalah perkataan-perkataan dusta.

Padahal Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ

“Jauhilah kalian perkara-perkara dusta, karena perkataan dusta akan mengantarkan pelakunya kepada keburukan dan keburukan  akan mengantarkan pelakunya kepada Neraka.”

Ketika seseorang masih saja dia melakukan perbuatan dustanya, bahkan dia terus dan tidak bisa meninggalkannya maka dicatat sebagaimana dalam hadits:

حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا.

“Sampai Allah tetapkan bahwa ia sebagai seorang pendusta.”

Berikutnya adab yang perlu ditekankan dan ini hukumnya wajib selain menjaga diri dari sifat dusta dia juga menjauhkan diri lisannya ghibah.

Ghibah

Ghibah adalah membicarakan orang lain atas hal yang tidak diinginkan oleh saudara kita tersebut.

Ghibah ini adalah sesuatu yang sangat berat sekali syari’at Islam memandangnya.

Ada sebuah kisah dan sebuah hadits yang menarik yakni ketika malaikat Jibril alayhissalam mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika proses Isra’ dan Mi’raj.

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam melihat seseorang yang mencakar-cakar wajahnya, kemudian Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada malaikat Jibril alayhissalam:

“Siapakah mereka?”

Jibril alayhissalam mengatakan:

هؤلاءِ الذينَ يأكلونَ لُحُومَ الناسِ ، ويَقَعُونَ في أَعْرَاضِهِمْ

“Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan mencelakakan harga diri mereka.”

Poin berikutnya yang tidak boleh dilupakan adalah,

Menjaga Anggota Tubuh pada yang Halal

Bagaimana orang yang berpuasa dia tetap menjaga agar semua anggota tubuhnya baik itu pendengaran, penglihatannya tetap berada di jalan yang Allah tetapkan kehalalannya.

Jangan sampai dia berpuasa namun telinganya mendengar atau menikmati ghibah dari tetangganya.

Jangan sampai ketika ia puasa matanya justru menikmati hal-hal yang haram.

Baca juga  4 Keutamaan Orang yang Puasa

Apa saja adab-adab yang sunnah?

9 Adab Wajib dan Sunnah Berpuasa

Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan setidaknya ada lima poin adab-adab sunnah yang bisa mengantarkan kita kepada pahala sempurna dalam puasa Ramadhan, diantaranya:

Sahur

Seyogyanya kita tidak meninggalkan ibadah sahur, kenapa kita sebut ibadah? Karena Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam menganjurkannya saat Ramadhan.

Sahur bukan hanya sekedar kebutuhan kita untuk melengkapi nutrisi di siang hari saat Ramadhan.

Ketika kita niatkan ini untuk mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, yang mana beliau mengatakan:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Sahurlah kalian! Karena di dalam sahur ada keberkahan.” (Hadits riwayat Al-Bukhari nomor 1923)

Kalau kita tinjau ulang ketika keberkahan ini sudah diucapkan dan dijelaskan oleh para ulama, maka tidak ada makna yang mengartikan keberkahan selain dipenuhinya kebaikan.

⇒ Dan sahur ini yang paling afdhal dilakukan di akhir waktu.

Kenapa di akhir waktu?

Ketika kita melakukan sahur di akhir waktu setidaknya ada 2 kebaikan,

Pertama, Kebaikan karena beginilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa jarak antara sahur dan juga adzan subuh kurang lebih 50 ayat.

Kalau kita tela‘ah ulang dan kita lihat ayat-ayat dalam Al-Qur’an surat yang genap 50 ayat adalah surat Al-Mursalat.

Kalau kita lihat dan dengarkan muratal-muratal yang ada, yang bacaannya standar, tidak terlalu cepat maka membaca surat Al-Mursalat kurang lebih 5 sampai 10 menit. Inilah waktu sahur, bukan kemudian kita sahur di tengah malam lalu bablas sampai subuh. Tapi sahur benar-benar di akhir waktu menjelang Subuh.

Dan ketika kita lihat, mengapa para sahabat sahur dengan kondisi seperti ini? yakni antara 50 ayat jaraknya dengan shalat subuh. Karena memang para sahabat tidak berlebihan.

Tidak seperti zaman kita sekarang, ketika makan di sana ada appetizer dulu, di sana ada main course dulu, di sana pun ada dessert. ada berbagai macam lapisan dalam makan. Ada pembuka, makanan utama juga penutup.

Maka bersederhana dalam sahur, asalkan benar-benar mengikuti sunnah Nabi, niatnya benar-benar ittiba’. InsyaAllah berpahala dan disitulah keberkahannya.

Mengapa sahur di akhir waktu ini adalah hal yang afdhal

Kedua, Karena menghindari diri kita untuk kesiangan shalat subuh.

Telah kita sampaikan, bagaimana ketika seseorang sahur maka berarti dia tidak akan kehilangan shalat subuh.

Tatkala orang-orang munafik berat dalam melakukan shalat subuh, maka tindakan kita mengakhirkan sahur sehingga mendekati waktu shalat subuh.

Sehingga setelah sahur lalu kita akhiri dengan dikumandangkannya adzan subuh dan kita pun langsung shalat subuh.

Terhindarlah diri kita dari apa yang disebut sebagai orang-orang munafik yakni berat dalam shalat isya dan shalat subuh

Menyegerakan berbuka

Berbuka adalah moment-moment emas, moment dimana kaum muslimin menghilangkan dahaganya dan di sini Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْر

“Tidaklah manusia  ini senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (Hadits riwayat Al-Bukhari nomor 1957)

Karena keberkahan selain hadir di akhir waktu sahur, di sanapun juga ada di moment-moment berbuka karena itu adalah nikmat dari Allah.

Maka tidak layak bagi kita kemudian untuk menunda-nundanya. Segerakan berbuka jangan sampai berpikir bahwa semakin lama berpuasa semakin banyak pahalanya.

Berbuka dengan kurma

Berbuka dengan kurma telah menjadi pengetahuan umum bagi kita akan sunnah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam di dalamnya dan disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam memiliki runtutan.

Prioritas pertama beliau berbuka dengan ruthab (kurma basah), kalau tidak didapati maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), kalau tidak didapati baru beliau berbuka dengan air.

Di zaman sekarang, In sya Allah sudah semakin banyak kita dapati kurma baik itu ruthab ataupun tamr, bahkan kita pun juga sudah dapat bagaimana kurma ini masuk dalam berbagai jenis minuman mulai infus water dan lain sebagainya maka pergunakan ini.

Tidak melupakan do’a saat akan berbuka

Inilah moment-moment spesial, bagaimana ketika kita akan berbuka di situ kita sebanyak-banyak bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla.

Maka celakalah orang yang masih berpikir tentang ngabuburit, ia menyia-nyiakan waktu emas, ia menyia-nyiakan momentum spesial untuk berpuasa, ia menyia-nyiakan momentum spesial untuk berdo’a bermunajat kepada Rabb-Nya tentang segala hajat dunia maupun akhiratnya.

Gunakan ini untuk berdo’a, maka di antara hikmah ketika di zaman sekarang ada pembatasan sosial, ada lock down, ada berbagai macam kendala. Dianjurkan Social distancing, physical distancing, ini adalah ibrah bagi kita semua agar kita lebih khusyuk lagi untuk berdo’a menjelang berbuka.

Hingga nanti kita akan dapati banyak di antara kaum muslimin di segala penjuru dunia, ketika menunggu adzan akan menengadahkan tangannya ke langit dengan berdo’a dengan penuh kekhusyukan hati.

Memperbanyak amalan sunnah

Adab yang terakhir yang dinukilkan oleh Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah, adalah memperbanyak ibadah secara umum, seperti membaca Al-Qur’an, shalat sunnah, berdzikir, dan juga bersedekah.

Khusus poin sedekah, ini menjadi kesempatan kita untuk berbagi, berbagi kepada sesama kita. Di moment-moment yang mungkin sulit, di moment-moment yang mungkin banyak orang membutuhkan.

Maka berbagi untuk takjil berbagi untuk ifthar. In syaAllah ini yang terbaik untuk kita semua.

Semoga Allah menjaga kita dan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang dapat memanfaatkan momentum Keistimewaan Ramadhan ini apapun keadaannya dengan semaksimal kemampuan kita semua.

Oleh Ustadz Rosyid Abu Rasyidah, M.Ag

Write A Comment